Sandal Biru Menemaniku Menjemput Masa Depan

FLC Taehue, Timor Tengah Selatan, NTT

store.kintakun-bedcover.co.id Disebuah dusun kecil yang jauh dari keramaian kota tinggallah sebuah keluarga yang memiliki keterbatasan. Keluarga ini memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Risto Soinbala. Saat ini, Risto sudah berusia 7 tahun dan ia lahir dari pasangan Marten Soinbala dan Imelda Boimau yang tinggal di Temkuna, Desa Mnela’anen, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah selatan.

Risto adalah seorang anak  laki-laki yang sangat pendiam dan memilki sifat pemalu. Pada bulan Juni 2019 yang lalu, Risto diantar oleh mamanya untuk mendaftar dan bersekolah di PAUD Yayasan Tangan Pengharapan Taehue. Awalnya, Risto diantar dan dijemput oleh mamanya setiap hari selama satu bulan, Namun seiring berjalannya waktu Risto tidak lagi di antar oleh mamanya karena harus bekerja dirumah dan membantu bapaknya di kebun. Hal ini membuat Risto harus belajar mandiri untuk pergi kesekolah dengan jarak yang jauh kurang lebih 5 Km. Bahkan, tidak ada teman yang dapat menemaninya melewati perjalanan saat pergi dan pulang sekolah dengan jarak yang tidak dekat. Sepeda motor hingga mobil yang melintasi jalan tersebutpun sangat jarang bahkan kadang-kadang hanya satu jam sekali.

Sepuluh bulan sudah Risto mengenal jalan itu dan ia mulai menghafal setiap tikungan yang ada dijalan tersebut. Perjalanan Risto menuju ke sekolah tidak mudah karena ia hanya memakai sepasang sendal untuk menemaninya menuju sekolah. Namun, sendal itu sangat berarti untuk Risto karena bisa digunakan untuk meraih masa depannya, Mungkin, menurut pandangan kita sendal yang digunakan tidak layak tetapi Risto sangat bersyukur karena dengan sendal itu dia bisa melewati jalan dari rumah ke sekolah. Risto adalah siswa yang jarak rumahnya paling jauh dari sekolah dibandingkan dengan teman–temannya yang lain dan ia harus melewatinya dengan berjalan kaki berbeda dengan teman-temannya yang dapat pergi ke sekolah dengan menggunakan  kendaraan (motor atau mobil). Dari latar belakang keluarga yang kurang mampu, ia tidak punya pilihan selain berjalan kaki menuju sekolah apalagi dengan menggunakan sepeda yang bahkan sekedar naik ojek dengan tarif Rp.5.000 sekali jalanpun ia tidak punya.

Namun Risto tidak pernah mengenal lelah, setiap kali ia pulang sekolah ia selalu membantu bapak dan mamanya memberikan makanan kepada ternak mereka (babi) juga harus membantu  membawa air dengan jerigen yang berukuran 5 Liter. Hal ini terlihat sangat tidak mungkin untuk anak yang seusia Risto. Seharusnya, di usia seperti ini dia lebih banyak menggunakan waktu untuk bermain bersama teman–temannya. Meskipun banyak aktifitas yang dilakukan Risto setelah pulang sekolah, tidak menjadi alasan baginya untuk berjuang meraih masa depannya. Walaupun jarak yang begitu jauh, Risto selalu semangat untuk datang ke sekolah setiap hari bahkan bisa tiba lebih awal dari teman-temannya. Selain itu, Risto juga merupakan salah satu murid yang ketika masuk sekolah memiliki banyak kekurangan dari yang tidak bisa memegang pensil, tidak dapat mengenal huruf, daya tangkap yang kurang di bandingkan dengan teman yang lain, hingga butuh waktu yang lama untuk mengerti materi yang di ajarkan. Namun, Risto tidak patah semangat dan terus berusaha sehingga akhirnya dia merubah semua keraguan kami menjadi sebuah kejutan yang membanggakan. Risto yang awalnya tidak mengenal huruf dan tidak bisa memegang pensil akhirnya bisa dan sama dengan teman–temannya yang lain. Meskipun belum sempurna, tetapi usahanya untuk terus mau belajar tak kenal lelah menjadi hal yang luar biasa bagi kami.

Lewat kisah Risto, kami ingin mengucapkan terimakasih untuk Kintakun Lovers terus mendukung dengan memberikan bantuan sehingga setiap anak-anak dapat menggapai mimpi mereka dan bersama-sama kita membangun Indonesia yang lebih baik. Ayo terus mendukung dengan membeli setiap Produk Kintakun – Mari Berbagi #DariKamar Kintakun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *